Artikel ini merupakan upaya untuk menjabarkan Kitab Mazmur 119.
Seri 1. Mazmur 119
FIRMAN TUHAN
Pernahkah Anda mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh para petinggi dan pemegang wewenang dalam negara, kantor, masyarakat, atau lingkungan Anda? Mungkin mereka mengancam agar Anda meninggalkan iman, berusaha membuat Anda dipermalukan, atau mengolok-olok kepercayaan Anda. Apa yang harus Anda lakukan mangahadapi semua itu jika hal itu benar-benar terjadi dalam hidup Anda. Pemazmur menghadapi masalah tersebut dengan menguatkan diri melalui perenungan Firman Tuhan. Baginya, Firman Tuhan mampu meneguhkan dirinya. Firman Tuhan adalah harta kekayaan yang berharga. Firman adalah pedoman hidup dan sumber kekuatan. Karena itu, ia terdorong untuk lebih banyak memperolehnya. Semua itu tercermin dalam tulisannya dalam Mazmur 119.
Mazmur pasal 119 ditulis dalam bentuk urutan alphabet Ibrani. Tiap delapan ayat dimulia dengan satu alphabet yang berbeda, yaitu mulia dari huruf alef pada ayat 1-8, kemudian dilanjutkan huruf bet pada ayat 9-16, dan seterusnya sampai huruf yang ke dua puluh dua, yaitu tau. Secara garis besar Mazmur 119 ini adalah kumpulan doa dan renungan Firman Tuhan. Ada sepuluh kata dalam Mazmur 119 yang menggambarkan kesimpulan tersebut .
1. Ajaran (torah). Torah itulis dua puluh lima kali dalam Mazmur pasal ini. Torah artinya ajaran atau tuntunan. Sering kali kata ini mengacu pada bentuk ajaran, mungkin ini berkaitan dengan kitab Imamat dan Ulangan, atau bahkan semua kitab Musa, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Sedangkan dalam Yohanes 10:34 menyebutkan bahwa Torah berkaitan dengan Perjanjian Lama secara keseluruhan.
2. Firman (davar). Davar muncul dua puluh kali dalam Mazmur pasal ini. Isitlah ini pada umumnya berarti penyataan Tuhan. Sepuluh perintah Tuhan secara harafiah juga disebut “Sepuluh Firman” (Ulangan 4:13).
3. Perkataan (‘imrah” yang sering diartikan janji) terdapat Sembilan belas kata dalam Mazmur 119 ini. Kata ini memiliki kesamaan dengan kata davar.
4. Perintah (miswah), terbaca dua puluh satu kali dalam bentuk jamak, biasanya berarti “perintah”. Perintah yang dimaksud di sini adalah perintah tertentu, atau perintah dari yang berwenang.
5. Ketetapan (huqqim). Artinya “hal yang diuraikan” atau “yang ditetapkan”
6. Hukum (misfat) yang ditulis Sembilan belasa kali sering bermakna torah atau hukum. Hukum yang dimaksud adalah seperti keputusan pengadilan yang didasari pada hukum, yaitu hukum yang mengikat. Dalam Pentatuk (Lima Kitab Musa) bisa mengacu pada sepuluh perintah Tuhan. Makna lainya adalah tindakkan keadilan Tuhan atas orang jahat.
7. Titah (piqqudim), suatu ungkapan puitis yang berarti perintah tegas. Kata-kata ini selalu dalam bentuk jamak dan hanya terdapat dalam kitab Mazmur. Mazmur 119 mencatat dua puluh satu kali.
8. Peringatan (edah), kata ini merupakan penjelasan atau pernyataan kehendak Tuhan. Pada umumnya kata ini berarti semacam peraturan yang menjadi standar perbuatan Tuhan. Dalam Mazmur 119, kata ini muncul dua puluh dua kali.
9. Jalan (derek) terdapat sebelas kali dalam Mazmur 119. Kata ini menjelaskan pola hidup yang warnai oleh hukum Tuhan.
10. Lorong, jalan kecil (orah), lima kali dalam Mazmur 119 berarti sejajar dengan jalan (Derek). Karena itu kata ini diterjemahkan jalan.
Selanjutnya, pemazmur juga mencatat tanggapannya terhadap Tuhan dan Firman-Nya yaitu: suka akan firman, mencintai, menaati, merenungkan, dan bersukacita atas firman Tuhan. Dia juga ingin Firman Tuhan memperbaharui, menjaga, hidupnya sebagai seorang hamba.
Perenungan atas kitab Mazmur 119 akan menguatkan kita dalam menghadapi cemooh, hinaan atas iman kita. Mari kita telusuri bagaian demi bagian pasal ini.
Seri 2. Mazmur 119
BERKAT DARI KETATAAN
Hari itu padang pasir di sebuah dataran Timur Tengah sangat panas. Suhunya lebih dari empat puluh derajat. Kohen, seorang pengembara, terus menelusuri jalan panas dan ingin sampai tujuan. Teriknya panas matahari dari atas dan pantulan pasir yang diinjaknya menyempurnakan panasnya perjalanan. Ia merasa seolah-olah terpanggang dari dua sisi. Kerongkongannya tidak bisa kompromi lagi untuk menahan haus.
Ketika pikirannya membayangkan sumber air, tiba-tiba matanya menangkap bayang-bayang sebuah gubuk kecil yang jauh. Keinginannya yang besar menghapuskan dahaga mempercepat langkahnya untuk sampai ke gubuk itu. Pikirnya, paling tidak ia bisa berteduh sejenak. Harapan sedikit meredakan haus nyaris terpenuhi karena setibanya di tempat itu ia melihat sekaleng air di atas sebuah pompa air.. Tetapi betapa bingungya dia karena di samping kaleng itu terdapat selembar kertas yang ditindih batu kecil untuk mencegah supaya tidak kabur. Kertas itu bertuliskan: “Air di kaleng ini jangan diminum. Air ini hanya digunakan untuk memancing pompa. Kalau Anda mau minum dari sumur ini, gunakan air ini untuk memancingnya. Karena itu, pertama gunakan air untuk memancing pompa kemudian setelah memperolah arid an minumnya dari sumber itu, tinggalkanlah sekaleng air yang sama untuk pejalan kaki lain yang membutuhkannya.”
Setelah membaca tulisan itu, ia berpikir dalam keraguan, katanya: “Jika saya melakukan persis apa yang dikatakan dalam tulisan itu, ya kalau air keluar setelah dipompa dari sumbernya. Kalau tidak, saya akan tetap kehausan. Tetapi kalau saya tidak melakukannya, orang lain yang lewat di sini akan kehausan. Betapa kejamnya saya.” Setelah berpikir demikian, ia pun memutuskan untuk melakukan persis apa yang dikatakan dalam tulisan itu apa pun resikonya. Dia tuangkan air ke lobang kecil pompa itu, pompa digerakan dan … air pun memancar. Pengembara beruntung, ia dapat minum sepuasnya. Ia sangat gembira dan tidak lupa meninggalkan satu kaleng air di tempat itu. Tulisan di kertas pun dirapikan di sisinya. Ia kemudian melanjutkan perjalanan.
Firman Tuhan itu bagaikan air yang memuaskan dahaga jiwa kita. Firman dapat menjadi berkat dalam hidup kita. Karena itu, pemazmur mengingatkan kita akan kebenaran ini: Barang siapa menaati Firman Tuhan, ia akan diberkati dan beruntung. Mazmur 119:1-8 menjelaskan hal tersebut. Pertama, ayat 1-3 menyebutkan bahwa orang yang berjalan dalam ketataan sepenuh hati pada Taurat diberkati. Demikian Firman Tuhan, Berbahagialah (diberkatilah) orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. (TB, LAI).
Kedua, orang-orang yang lebih menaati firman Tuhan atau berpegang teguh Taurat-Nya tidak akan merasa malu. Mari kita simak firman ini: “Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu.” (Mzm 119:4-6, TB-LAI, cetak tebal oleh penulis). Kata “malu” dalam bahasa Ibrani konotasinya termasuk bingung, sangat kecewa, dihina, dan kehancuran. Para nabi umumnya menggunakan kata tersebut dalam pengertian ini: Isreal jika tidak bertobat dan berbalik dari penyembahan berhalanya, mereka pasti akan mengalami kekalahan dan dibuang yang akhirnya dipermalukan. Jadi, berkaitan dengan ayat yang telah kita baca, kekalahan kita terhadap iblis, musuh kita, diakibatkan oleh karena kita tidak berpegang firman Tuhan dan akhirnya kita menjadi malu terhadap diri kita, apa lagi jika diperhadapkan dengan kebenaran firman itu. Dalam bahasa sehari-hari dapat dikatakan begini: “Kamu sih gak taat, pasti kalah.” Tetapi sebaliknya, jika kita menaati firman-Nya, maka kita tidak akan direndahkan apa lagi dikalahkan. Kita tidak akan merasa malu untuk lebih meyakini dan menaati firman Tuhan.
Ketiga, orang yang diberkati oleh firman Tuhan akan bersyukur, karena itu ia akan lebih banyak mempelajari ketetapan Tuhan. Pemazmur menulis, “Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali.” (Mzm 119:7-8, TB-LAI).
Kali ini kita diingatkan oleh pemazmur akan nilai firman Tuhan dalam hubungannya dengan kehidupan kita. Kita menyadari bahwa firman Tuhan bagaikan air yang menyegarkan kita. Air yang kita butuhkan. Tetapi kita kurang terdorong untuk menaatinya. Kembali kepada kisah sang pengembara, bagaimana jadinya jika ia tidak menuruti apa yang tertulis dalam petunjuk penggunaan air di kaleng itu. Ia meminumnya saja dan tentulah hanya sedikit rasa dahaga yang terpenuhi. Dan tetapi orang lain yang lewat dan membutuhkan air celaka karena tidak bisa memompa air. Tetapi sebaliknya sebagaimana yang dia lakukan, ia telah memperoleh keuntungan sekaligus dapat menjadi berkat bagi orang lain. Keptusan untuk menaati firman Tuhan karena kita menyadari bahwa barang siapa menaati firman-Nya, ia diberkati. Amin.

Betul itu