“Lebih baik mencegah daripada mengobati.” Pepatah ini tampaknya bukan saja berlaku dalam hubungannya dengan kesehatan jasmani, tetapi juga dalam lingkup rohani. Pencegahan agar kehidupan rohani tetap fit adalah dengan memelihara dan menjaganya. Kita percaya bahwa Roh kudus menjadi pengendali dan penjaga kehidupan yang menghasilkan buah-buah rohani. Karena itu, bagi orang percaya, kepenuhan Roh Kudus merupakan pengalaman yang harus terjadi terus menerus. Lalu, apakah peran firman Tuhan dalam kehidupan orang percaya? Kitab Mazmur 119:9-16 memberi jawaban atas pertanyaan ini.
Bait kedua Mazmur yang terdiri dari delapan ayat dan dimulai dengan huruf bet ini menjelaskan bagaimana firman Tuhan bekerja dalam kehidupan orang percaya. Setidaknya ada dua hal, yaitu: Pertama, seseorang akan dibersihkan atau disucikan jalannya atau hidupnya dengan menaati firman Tuhan. Karena firman itu mencegah atau menjaga orang itu untuk berbuat dosa. Ini dapat diandaikan dengan lampu lalu lintas di perempatan jalan. Pengemudi yang taat akan rambu lampu lalu lintas itu akan mencegah terjadinya kecelakaan. Sebab itu pemazmur mengajukan sebuah pertanyaan: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih dan menjawabnya demikian? Kemudian ia menjawabnya demikian, “Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9, TB-LAI).
Kedua, seseorang akan dimurnikan moralnya dengan menyimpan dan menyukai firman Tuhan. Mari kita baca ayat yang menyatakan hal ini, “Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. (Mazmur 119: 10-14, TB-LAI), Dua kata yang disebut ayat ini adalah menyimpan dan ajarkanlah. Apakah arti menyimpan firman dalam ayat ini? Kata ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “menyimpan” adalah tsafan. Kata tsafan artinya bukan sekedar “menyimpan,” tetapi memiliki arti “menyembunyikan sesuatu dengan tujuan tertentu, misalnya untuk melindungi atau menghindari bahaya. Contoh: Musa waktu kecil disembunyikan orang tuanya. Sedangkan kata “ajarlah” mengacu pada kegiatan belajar yang menuju perubahan, misalnya orang tidak bisa menulis lalu ia belajar menulis sehingga ia bisa menulis. Jadi firman Tuhan disimpan untuk tujuan tertentu dan dipelajari untuk mengubah diri orang yang mempelajari. Jadi, dengan menyimpan dan mempelajari firman Tuhan maka seseorang akan mengalami perubahan moralnya. Firman bagaikan vitamin yang menyegarkan jiwa dan memberi kehidupan.
Karena itu, kita harus menyerap firman Tuhan dengan merenungkannya. Merenungkan berarti mengolah dalam pikiran atau mengulang pengucapan. Keduanya perlu dilakukan untuk menghidupkan firman Tuhan itu dalam perbuatan kita. Akhirnya, marilah kita bertekad untuk mencegah keinginan dosa kita dengan memperlengkapi diri kita dengan firman Tuhan sebagaimana Pemazmur lakukan: Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. (Mazmur 119:15-16, TB-LAI). Amin.
